171.414 Jamaah Haji Indonesia di Arab, Ini Tips Bagi Lansia dan Disabilitas 

PALEMBANG,SINDOSUMSEL.COM–Penyelenggara ibadah haji mendata dari  Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) hingga tanggal 17 Juni 2023, pukul 24.00 WIB,  Jemaah Haji Indonesia yang telah tiba di Arab Saudi berjumlah 171.414 orang. 

Dan jumlah jamaah gelombang II telah tiba di Makkah dengan berjumlah 68.996 orang atau 179 kelompok terbang.   

“Kedatangan jemaah haji kuota tambahan di Bandara AMAA Madinah sebanyak 1.105 orang atau 4 kloter. Selanjutnya, Jemaah haji kuota tambahan tersebut didorong dari Madinah ke Makkah untuk umrah wajib,” ujar Koordinator Media Center Haji (MCH) PPIH Pusat Dodo Murtado di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Minggu(23/6/2023). 

   

Untuk Jemaah haji khusus yang telah tiba di tanah suci hari ini berjumlah 659 orang. Sehingga total jemaah haji khusus sampai dengan hari ini berjumlah 8.670 jemaah yang tergabung dalam 144 Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).  

   

“Adapun total jemaah yang wafat di Arab Saudi sebanyak 78 orang, dengan rincian jemaah yang wafat di Makkah sebanyak 44 orang, di Madinah sebanyak 31 orang, dan di Jeddah sebanyak 3 orang. Sesuai ketentuan, Jemaah yang wafat akan dibadalhajikan,” imbuhnya.  

 

 

Sementara itu, Wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah, tawaf Ifadah merupakan rangkaian puncak haji yang akan banyak menguras energi jemaah. Pada tahun 2023, populasi jamaah lanjut usia (lansia) mencapai 30 persen lebih disertai jemaah kategori risiko tinggi (risti), dan penyandang disabilitas. 

  

“Karenanya, menjelang puncak haji, para jemaah lansia, risti dan penyandang disabilitas perlu mengantisipasi dengan tidak memaksakan diri melaksanakan ibadah-ibadah sunnah yang menguras tenaga, seperti umrah sunnah berkali-kali,” terang Koordinator Media Center Haji (MCH) PPIH Pusat Dodo Murtado di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.  

Baca :  RA Anita Sampaikan Pesan Persatuan di Konferwil Muslimat NU

  

Dodo menyampaikan berbagai rukhsah atau keringanan ibadah yang perlu diterapkan jamaah untuk mencegah mudharat dan memberi kemudahan bagi jamaah.  

  

“Ketika jemaah haji sakit dan tidak mampu mengerjakan thawaf dengan berjalan sendiri, maka bisa dibantu dengan ditandu atau digendong. Boleh menggunakan kursi roda atau alat lainnya jika tidak dapat berjalan atau ada masalah lain saat melakukan Sa’i,” kata Dodo, Minggu (18/06/2023).  

  

“Jika jamaah tidak bisa melempar jumrah dengan berbagai alasan, maka boleh diwakilkan orang lain yang sudah melaksanakannya,” sambungnya. 

  

Keringanan lain, lanjutnya, jemaah yang ingin cepat-cepat kembali ke Makkah saat di Mina (sebelum tanggal 13 Dzulhijjah) boleh pergi lebih awal, yaitu pada tanggal 12 Dzulhijjah (nafar awwal). Jemaah yang berhalangan untuk wukuf karena sakit atau melahirkan dapat melaksanakannya di dalam mobil atau ambulans. 

  

“Jemaah haji tamattu’ atau haji qiran yang tidak sanggup membayar dam boleh menggantinya dengan berpuasa selama 10 hari (3 hari ketika sedang berhaji dan 7 hari di Tanah Airnya),” ungkap dia. 

  

Ia menambahkan, keringanan lainnya, jika tidak bisa melaksanakan mabit atau bermalam di Muzdalifah, boleh hanya sepintas di sana asalkan pada waktu malam hari atau hanya berada di mobil saja. Lalu, Sholat boleh dijamak dan diqashar selama melaksanakan ibadah haji atau umrah. 

  

“Semua rukhsah atau keringanan tersebut menunjukkan bahwa aturan-aturan yang ada dalam Islam bukan untuk menyulitkan umatnya,” tambahnya.