Kamis , 22 Februari 2024
Refleksi Satu Tahun Kepengurusan PCNU Palembang oleh Abdul Malik Syafei*
Refleksi Satu Tahun Kepengurusan PCNU Palembang oleh Abdul Malik Syafei*

Menjaga Kultur, Memperkuat Struktur, dan Membangun Infrastruktur dan Membangun Infrastruktur

SindoSumsel.com– Tidak terasa satu tahun sudah kepengurusan PCNU kota Palembang periode 2022-2027 berjalan. Sejak resmi dilantik 22 Juni 2022 lalu, roda organisasi masyarakat (ormas) Islam berhaluan ahlussunnah wal jamaah ini berjalan begitu kencang dibawah kepemimpinan KH Hendra Zainuddin al-Qodiri. Programnya bersama jajaran pengurus berhasil membuat NU semakin dikenal, disukai dan dicintai warga Palembang.

Temuan survey lembaga Kuadran awal tahun 2023, sebanyak 42 persen warga Palembang mengaku NU. Jumlah itu jauh di atas ormas keagamaan lainnya. Jika dibandingkan dengan persentase pengikut lima tahun lalu, angkanya mengalami peningkatan sangat signifikan. Tentunya, keberhasilan ini berkat kerjasama yang solid antara Tanfidziyah dibawah komando Kiai Hendra dan Syuriah melalui duet Dr KH Rosidin Hasan M.Pd.I (Rois) dan Dr H Ikral, M.Ag (Katib).

Melalui opini ini, penulis mengurai keberhasilan tersebut dalam catatan refleksi satu tahun kepengurusan PCNU Palembang “Menjaga Kultur, Memperkuat Struktur, dan Membangun Infrastruktur”.

Menjaga Kultur Keagamaan

Kekuatan NU ada pada kulturnya, hal inilah yang menjadi basis jam’iyah di lapangan. Dalam setahun kepengurusan ini, PCNU Palembang menjaga betul kultur NU sebagai tradisi kegiatan organisasi. Sebut saja yang rutin berjalan seperti istighosah, zikir, manaqiban, pengajian kitab kuning, tausyiah keagamaan dan tradisi keagamaan lainnya.

Kepengurusan PCNU juga berhasil menghidupkan kembali program lailatul ijtima yang telah lama vacum di kalangan warga Nahdiyin. Sebuah tradisi berkumpulnya jamaah mengisi malam hari dengan zikir, shalawat dan tausyiah. Setiap bulan lailatul ijtima bergulir di setiap tingkatan, mulai dari PCNU, Majelis Wakil Cabang (MWC) dan kini sudah bergulir juga di ranting-ranting. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, kultur keagamaan NU yang kokoh terus diperkuat dan memperkuat ikatan antara pengurus dan jamaah. Menjadikan tradisi sebagai benteng organisasi dalam melestarikan kegiatan keagamaan dan counter terhadap gerakan wahabi yang membidik warga perkotaan.

Memperkuat Struktur

Salah satu fokus utama kepengurusan ini adalah memperkuat struktur organisasi untuk meningkatkan kinerja dan efektivitas program. Dalam setahun terakhir, sebanyak 18 lembaga NU sudah terbentuk semua, sehingga memperkuat sayap kegiatan di berbagai bidang lebih terstruktur dan terkoordinir dengan baik. Selain itu, PCNU juga menguatkan struktur 18 MWC yang sudah terbentuk dengan penguatan administrasi dan pemberdayaan kader. Tidak hanya itu, pada puncak resepsi satu abad NU Februari lalu, PCNU telah melantik sebanyak 96 pengurus ranting NU se-kota Palembang. Secara historis, NU di kota Palembang sudah ada sejak periode awal berdirinya NU tahun 1926, namun kepengurusannya baru berdiri tahun 1934 dengan ketua pertama Sayyid Muhammad Salim al-Kaff tahun 1934 (baca buku sejarah NU kota Palembang). Sudah 89 tahun NU berdiri, baru periode ini melanjutkan penguatan struktur sampai ke tingkat bawah, meneruskan pondasi perjuangan kepengurusan sebelumnya.

Pembentukan ranting ini mendapatkan apresiasi dari tokoh dan warga NU yang menginginkan NU agar mengakar sampai ke tingkat bawah. Ranting NU kini semakin update mendekati angka sempurna sesuai dengan jumlah kelurahan di kota Palembang, total 107 kelurahan. Kini, simbol-simbol NU mudah ditemui di pelosok-pelosok perkotaan.

Baca :  Nahdlatul Ulama Doakan RA Anita jadi DPR RI

Membangun Infrastruktur

Kepengurusan PCNU Palembang berhasil menjawab keinginan warga NU yang sudah lama mendambakan sekretariat/kantor sebagai pusat aktivitas menjalankan kegiatan organisasi. Melalui jaringan yang kuat, PCNU Palembang bulan Mei lalu memulai pembangunan kantor hibah dari hamba Allah di atas tanah wakaf PCNU Palembang. Bangunan ini nantinya menjadi legacy kepengurusan periode ini atas izin Allah dan dukungan semua warga nahdhiyin. Diharapkan akhir tahun ini bangunan sudah berdiri kokoh dan bisa digunakan untuk NU, Banom, Lembaga beserta warga NU. Selain fisik, PCNU Palembang juga menguatkan infrastruktur sumberdaya manusia (SDM) lewat pelatihan kader dan pengurus, membangun kerjasama dengan berbagai lembaga termasuk instansi pendidikan, sampai ke luar Provinsi. Juga penguatan infrastruktur jaringan media sosial menguatkan dan meng-counter dakwah di dunia maya. Sekecil apapun kegiatan NU, kini tersebar dan bisa diakses siapapun, bagian dari dakwah. Intinya PCNU Palembang bergerak, walau seendepan (kegiatan kecil).

Menghijaukan kota Palembang

 NU masih sangat berpotensi untuk lebih besar dan memberikan pengaruh luas kepada masyarakat kota Palembang. Persentase warga Palembang mengaku sebagai NU yang meningkat secara signifikan bisa terus berkembang. Apalagi, lebih dari 80 persen warga muslim di kota ini amaliahnya adalah NU. Sebagai catatan refleksi, penulis memberikan sejumlah langkah yang dapat menjadi pertimbangkan pengurus NU dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang sehingga bisa menghijaukan (meng-NU-kan) kota Palembang.

Pertama

PCNU Palembang dapat melanjutkan program pelatihan kader penggerak NU baik bagi anggota maupun pengurus agar satu nafas ideologi baik secara amaliah, fikrah dan harakah.

Kedua

memperluas jangkauan dan daya dampak dengan mengoptimalkan media sosial dan platform digital untuk meningkatkan jangkauan dakwah dan menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat luas.

Ketiga

membangun kolaborasi dengan pihak eksternal dengant menjalin kerjasama yang lebih erat dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan organisasi masyarakat lainnya.

Keempat

PCNU Palembang perlu riset dan studi untuk memahami lebih dalam kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Palembang agar dapat merancang program-program yang relevan dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

Kelima

mendorong partisipasi aktif dari anggota dan jamaah dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan program-program PCNU. Dengan mengambil langkah-langkah strategis tersebut, NU Palembang memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan berkembang, serta memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat dan agama di kota Palembang. Sebagai kader dan juga pengurus PCNU Palembang, penulis berharap PCNU Palembang bisa memanfaatkan peluang dan tantangan ini. Semoga kedepan semakin gas pol untuk agama dan bangsa.

*Penulis adalah sekretaris PCNU Palembang*